PENERAPAN TECHNOLOGY – BASED GUIDED DISCOVERY METHOD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA DAN HASIL BELAJAR MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNG DI SMP NEGERI 33 SEMARANG
PENERAPAN TECHNOLOGY – BASED GUIDED DISCOVERY METHOD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA DAN HASIL BELAJAR MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNG DI SMP NEGERI 33 SEMARANG
Tri Mulyono Edi Saputro
SMP Negeri 33 Semarang,Jl. Kompol R. Soekanto, Kota
Semarang;trimes82@gmail.com
Telah disampaikan dalam rangka Seminar Pendidikan Matematika
(Sendimat) ke -5
PPPPTK Yogyakarta
Tanggal: 21 s.d 22 November 2017
Abstrak. Pemanfaatan
teknologi dalam pembelajaran matematika jarang dipergunakan, sebagian besar
guru menganggap teknologi berbasis internet dapat menimbulkan hal-hal negatif,
akibatnya kebermaknaan belajar matematika kurang dapat dirasakan oleh siswa.
Kegiatan umpan balik belum dapat mengetahui kemampuan komunikasi matematika
baik secara tertulis maupun lisan serta mengevaluasi pembelajaran tidak dapat
diketahui secara langsung karena dilakukan dengan tanya jawab atau menggunakan
kertas. Tujuan Penelitian ini mendeskripsikan melalui penerapan Technology–based Guided-discovery Method untuk meningkatkan kemampuan komunikasi
matematika dan hasil belajar pada materi bangun ruang sisi lengkung pada siswa
kelas IX di SMP Negeri 33 Semarang. Penelitian ini, penelitian tindakan kelas yang terdiri dari siklus 1 dan
siklus 2. Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi matematika secara lisan pada level 4 yaitu ada
respon disertai alasan lengkap dan runtut penyajiannya dari 2 siswa (6,25%)
menjadi 10 siswa (31, 25%). Sedangkan kemampuan komunikasi matematika
pada level 1 yaitu ada respon tidak
disertai alasan terjadi penurunan dari 22 siswa (68,75%) menjadi 15 siswa (46,
88%), sehinga ada peningkatan kemampuan komunikasi matematika melalui
penerapan Technology–based Guided-discovery Method. Hasil tes rata-rata kelas pada siklus 1 dan siklus
2 mengalami peningkatan dari 68,44
menjadi 74,79 serta prosentase banyaknya siswa yang mendapat nilai minimal 70
(batas ketuntasan minimal) sebesar 65,63% menjadi 78,13%. Hasil tersebut
menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar materi bangun ruang sisi lengkung
melalui penerapan Technology–based Guided-discovery Method.
Kata Kunci.-Technology-Based Guided-discovery
Method,
Komunikasi, Bangun
Ruang Sisi Lengkung
1. Pendahuluan
Penelitian ini dilatarbelakangi hasil
ulangan kenaikan kelas untuk mata pelajaran matematika kelas IX-I pada waktu kelas VIII semester 2
tahun pelajaran 2016/2017 menunjukkan bahwa dari 32 siswa yang tuntas sesuai
batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70 sebanyak 7 siswa dengan
persentase 21,9%, sedangkan yang tidak tuntas sesuai KKM sebanyak 25 siswa
dengan persentase 78,1%., hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa siswa
kelas IX-I kurang
memiliki kemampuan belajar matematika terutama materi geometri. Berdasarkan wawancara
dengan sampel siswa menunjukkan
bahwa siswa beranggapan matematika masih
merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan khususnya materi geometri. Dari
hasil pengamatan dan pengalaman mengajar penulis bahwa proses pembelajaran
dilakukan cenderung bersifat rutinitas, yaitu berdoa, mengucapkan salam,
menanyakan kondisi siswa; jika ada PR siswa diberi kesempatan bertanya tentang
permasalahan yang belum dipecahkan, menyampaikan materi, memberi contoh,
latihan soal, membahasan soal yang telah dikerjakan dengan memberikan
kesempatan salah siswa untuk menjelaskan soal yang dikerjakan ke depan kelas,
meminta tanggapan siswa yang lain yang tidak maju memberikan tugas rumah dan
menutup pembelajaran.
Kehadiran TIK menawarkan arah baru
bagi guru untuk mengkaji dan mengevaluasi pembelajaran matematika dalam konteks
dunia nyata. Pemanfaatan TIK dapat mendukung guru untuk menciptakan sebuah
lingkungan pembelajaran yang ditingkatkan dengan teknologi (technology-enhanced learning environment)
serta melibatkan siswa untuk mencapai pembelajaran yang bermakna (Chua & Wu, 2005). Kenyataan yang ada pemanfaatan TIK dalam pembelajaran masih
kurang/jarang dipergunakan, sebagian besar guru menganggap TIK khususnya
aplikasi-aplikasi berbasis sosial media dapat menimbulkan hal-hal negatif saja,
akibatnya kebermaknaan belajar matematika kurang dapat dirasakan oleh siswa.
Strategi pelaksanaan evaluasi di awal
pembelajaran (apersepsi) maupun diakhir pembelajaran (penutup) biasanya dengan
melakukan tanya jawab, pretes, postes, ataupun kuis. Namun dari pengamatan dan
pengalaman penulis, hal tersebut masih kurang optimal dalam mengungkap hal-hal
yang sudah dikuasai maupun yang belum dikuasai siswa pada materi sebelumnya
yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajarinya disaat apersepsi dan
materi yang telah dipelajari disaat kegiatan penutup. Kurang optimalnya hasil
tersebut disebabkan hasil tes tidak dapat langsung diketahui guru maupun siswa
pada waktu tersebut disebabkan masih menggunakan kertas sebagai lembar
jawabnya. Jika menggunakan teknik tanya jawab, tidak semua siswa menjawab
pertanyaan yang diajukan guru atau siswa kurang dapat mengkomunikasikan/
memberi alasan terhadap jawaban yang diberikan. Akibatnya umpan balik (feedback) yang dilakukan dengan strategi tersebut kurang bermanfaat
sesuai dengan pendapat Stone dan Nileson dalam Sumiati (2009: 7) yang
menyatakan bahwa umpan balik bermanfaat untuk memperbaiki pembelajaran serta
membantu siswa memelihara minat dan antusias siswa dalam mengikuti
pembelajaran.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya suatu pengembangan
inovasi pembelajaran yang menerapkan pembelajaran aktif yang dapat melatih
siswa secara berkelompok maupun individu berbantuan teknologi serta meningkatkan kemampuan
komunikasi matematika. Harapannya siswa tidak hanya sekedar memiliki pengetahuan
tetapi juga dapat menjelaskan gagasan yang dapat dijelaskan melalui bahasa
matematika kepada guru maupun teman-temannya. Harapan tersebut sejalan dengan
pembelajaran di NCTM dalam Van de Walle (2007) menyatakan standar matematika
sekolah yang salah satunya tentang komunikasi. Standar komunikasi
matematika menitikberatkan pada pentingnya siswa berbicara, menulis, menggambarkan
serta menjelaskan konsep matematika. Belajar komunikasi dalam matematika akan
membantu perkembangan interaksi serta mengukur ide-ide di dalam kelas. Lebih
lanjut NCTM menyatakan bahwa dengan kemampuan komunikasi matematika diharapkan
siswa dapat (1) mengatur dan menggabungkan pemikiran matematis (2)
mengkomunikasikan pemikiran matematika mereka secara koheren dan jelas kepada
teman, guru, dan orang lain. (3) menganalisa dan menilai pemikiran dan strategi
orang lain dan (4) menggunakan bahasa matematika untuk menyatakan ide
matematika dengan tepat.
Untuk menjawab
permasalahan dan harapan yang diinginkan pada uraian di atas perlu adanya
penelitian dengan menerapkan metode penemuan terbimbing yaitu, sebuah teknik pembelajaran berbasis
inkuiri dan merupakan pendekatan berbasis konstruktivisme dengan menggunakan teknologi untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi matematika dan hasil belajar materi bangun ruang sisi lengkung. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui: (1) bagaimana menerapkan Technology–Based Guided-Discovery Method untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika materi bangun ruang sisi lengkung; (2) bagaimana menerapkan Technology–Based Guided-Discovery Method untuk meningkatkan hasil belajar materi bangun ruang sisi lengkung.
2.
Metodologi Penelitian
2.1. Setting Penelitian
Penelitian ini dirancang
selama 5 bulan, yaitu dimulai bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2017. Penelitian tindakan kelas
ini dilaksanakan di SMP Negeri 33 Semarang tahun pelajaran 2017/2018. Subjek penelitian
adalah siswa kelas IX-I dengan banyaknya siswa 32 orang.
2.2. Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus yang masing
masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, implementasi, observasi
dan evaluasi, refleksi.
Perencanaan
Langkah-langkah
pada tahap direncanakan terdir dari (1) menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; (2) menyiapkan
instrumen penilaian berbantuan aplikasi socrative dan plickers; (3) meninstall
Geogebra pada masing-masing komputer; (4) membuat tutorial menggambar bangun
ruang sisi lengkung dengan geogebra serta menyediakan video pembelajaran yang
selanjutnya di upload pada youtube; (5) membuat kelas pada edmodo; (6) menyiapkan
menggunakan aplikasi plickers pada smartphone; (7) lembar kerja peserta didik
dalam bentuk file; (8) menyiapkan kartu plickers (Plickers card); (9) lembar
pengamatan/observasi; (10) angket siswa tentang jalannya pembelajaran dengan
menggunakan teknologi; (11) Menyiapkan Jaringan internet/modem/Wi-Fi.
Implementasi
Secara garis besar
implementasi tindakan pada penelitian ini sebagai berikut: (1) guru menyampaikan materi yang akan di pelajari serta
skenario pembelajaran; (2) melakukan apersepsi dengan aplikasi Plickers untuk mengetahui pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari,
dilanjutkan mengetahui kemampuan
komunikasi matematika secara lisan, observer
mencatat level kemampuan komunikasi
matematika siswa secara lisan; (3) masing-masing anggota kelompok masuk kelas
edmodo dengan tujuan melihat video tutotial, mengunduh dan mengerjakan LKPD dan mengupload kembali sesuai dengan materi yang sedang dipelajari di aplikasi edmodo; (4) salah satu kelompok untuk mempresentasikan
hasil pekerjaannya di depan kelas. (5) Guru
memantau dan mengarahkan jalannya diskusi serta dibantu oleh teman observer
mencatat hal-hal yang berkenaan aktivitas siswa termasuk kemampuan komunikasi matematika siswa.. (6) setelah presentasi
selasai, masing-masing kelompok bermain race game dengan aplikasi socrative (7)
membahas tentang hasil race game, dan memberi kesempatan siswa menjelaskan
tentang jawabannya.(8) oberver
mencatat hal-hal yang berkenaan dengan kemampuan komunikasi siswa tersebut..(9) diakhir pertemuan
siklus, guru melakukan evaluasi tes siklus dengan menggunakan aplikasi
socrative, dan diakhir dengan informasi materi berikutnya serta penutup.
Evaluasi
Evaluasi
dilaksanakan setiap pertemuan yang terakhir di setiap siklusnya secara online
dengan menggunakan aplikasi socrative.
Refleksi
Setelah hasil observasi, dan hasil tes
dianalisis secara kolaboratif oleh observer, maka langkah selanjutnya adalah
melakukan refleksi apakah pembelajaran berhasil. Apabila hasil belum sesuai
dengan indikator yang telah ditetapkan maka penelitian tindakan akan diputuskan
untuk dilanjutkan pada siklus ketiga atau mengevaluasi strategi pembelajaran.
Jika hasil penelitian sudah sesuai indikator yang ditetapkan maka penelitian
akan dihentikan.
2.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpul data pertama, melalui test
tertulis, yang datanya berasal dari data primer yaitu dari siswa kelas IX I
sejumlah 32 siswa. Kedua, melalui observasi oleh peneliti dibantu observer pada
saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Teknik
pengumpul data melalui test dan observasi, maka alat pengumpul data penelitian
ini berupa: (1) butir soal test berbentuk pilihan ganda yang
berhubungan dengan bangun ruang bidang lengkung; (2) lembar aktifitas siswa
(lembar pengamatan) dalam
pembelajaran dan kemampuan komunikasi matematika. Aspek-aspek
yang diamati meliputi: (a) kerjasama
antara anggota kelompok dalam memecahkan masalah;(b) presentasi;
(c) hasil/karya/laporan; (d) keberanian berpendapat/bertanya; (e) Pada keempat aspek tersebut penskoran tiap-tiap
item menggunakan skala Likert dengan
rentang skor 1 sampai dengan 5 untuk semua aspek dengan kriteria skor tiap-tiap aspek sebagai
berikut.(5) baik sekali, (4) baik, (3) cukup, (2) kurang, dan (1) kurang
sekali. Sedangkan
lembar observasi kemampuan komunikasi siswa untuk mengetahui tingkat/level kemampuan komunikasi matematika berdasarkan
indikator yang telah ditetapkan berikut.
Tabel 1. Level Kemampuan
Komunikasi Siswa
Level 0
|
Tidak dapat memberikan
alasan (tidak ada respon)
|
Level 1
|
ada respon tidak
disertai alasan(diagram/gambar/simbol)
|
Level 2
|
Ada respon disertai
alasan (diagram/gambar/simbol) tetapi belum lengkap
|
Level 3
|
Ada respon disertai
alasan
(diagram/gambar/simbol) lengkap tetapi belum runtut.
|
Level 4
|
Ada respon disertai
alasan (diagram/gambar/simbol) lengkap dan runtut penyajiannya.
|
2.4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis
data meliputi:(1) Hasil belajar (nilai test), Hasil belajar
dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif komparatif yaitu membandingkan
nilai test antar siklus maupun dengan
indikator kinerjanya; (2) Observasi, hasil observasi dianalisis dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif.
3.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
3.1.
Hasil Penelitian
Sebelum melakukan penelitian
tindakan kelas, peneliti mengambil data awal siswa kelas IX I yang mendeskripsikan tentang hasil ulangan kenaikan
kelas pada saat di kelas VIII tentang materi geometri dan pengukuran pada
materi lingkaran dan bangun ruang sisi lengkung.
Tabel.2. Data Nilai Ulangan
Kenaikan Kelas Mapel Matematika Siswa kelas IX I pada saat Kelas VIII
No
|
Uraian
|
Keterangan
|
1
|
Banyaknya siswa
|
32
|
2
|
Rata-rata Nilai
|
60,39
|
3
|
Nilai tertinggi
|
75
|
4
|
Nilai terendah
|
47,5
|
5
|
Banyak siswa yang
mendapat nilai > 70
|
7
|
6
|
Prosentase siswa yang
mendapat nilai > 70
|
21,9%
|
7
|
Banyak siswa yang
mendapat nilai < 70
|
25
|
8
|
Prosentase siswa yang
mendapat nilai <70
|
78,1%
|
Dari tabel tersebut
menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap materi geometri
dan pengukuran masih rendah. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan dilakukan peneliti
dengan siswa maupun guru, terungkap bahwa (1) kegiatan pembelajaran sebatas
kegiatan rutinitas, (2) guru tidak melalukan feedback (umpan balik)
secara langsung berupa pemberian soal/prestes/kuis yang langsung dapat
diketahui hasilnya, sehingga guru dapat secara tingkat mengingatkan konsep yang
telah dipelajari. (3) belum terdapat kegiatan diskusi kelompok dan presentasi
hasil, guru telah melakukan pembelajaran dengan menugaskan kepada siswa untuk
menyelesaikan masalah yang nyata namun hasil yang dikerjakan siswa tidak
dipresentasikan dahulu ke depan kelas, akibatnya siswa kurang memiliki
kemampuan berkomunikasi matematika, merasa takut untuk menyampaikan
pendapatnya, pasif dalam mengikuti pembelajaran matematika. (4) Pada saat akhir
pembelajaran pada satu kompetensi dasar, guru tidak melakukan evaluasi seketika
padasaat kegiatan penutup atau dengan kata lain guru melakukan evaluasi pada
pertemuan berikutnya, hal ini menyebabkan guru kesulitan dalam melihat
kemampuan siswa terhadap pemahaman materi yang telah dipelajari. (5) Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran masih
kurang/jarang dipergunakan, sebagian besar guru menganggap TIK khususnya
aplikasi-aplikasi berbasis sosial media dapat menimbulkan hal-hal negatif saja,
akibatnya kebermaknaan belajar matematika kurang dapat dirasakan oleh siswa.
Dari uraian di atas lebih memperjelas
keadaan secara umum bahwa kemampuan awal siswa IX I SMPN 33 Semarang dalam memahami materi geometri
dan pengukuran masih rendah itu perlu adanya menerapkan metode penemuan terbimbing yaitu, sebuah
teknik pembelajaran berbasis inkuiri dan merupakan pendekatan berbasis
konstruktivisme dengan menggunakan teknologi
untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika dan Hasil Belajar
Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung pada siswa kelas IX I Semester 1 di SMP Negeri 33 Semarang Tahun Pelajaran
2017/2018.
3.1.1.
Deskripsi Pelaksanaan Siklus 1
Siklus pertama dilaksanakan tiga
kali pertemuan dengan setiap pertemuan selama 2 jam pelajaran (2 ´ 40 menit) yang diikuti oleh 32
siswa dengan rincian sebagai berikut. Materi siklus 1 adalah menentukan
sifat-sifat bangun ruang sisi lengkung. Pertemuan pertama sampai dengan ketiga kegiatan
pendahuluan didahului dengan memastikan seluruh siswa berada di laboratorium
komputer dan duduk berdekatan dengan kelompok diskusinya. Guru menyiapkan
perlengkapan pembelajaran diantaranya membagikan kartu Plickers (Plickers Card).
Guru menayangkan skenario
pembelajaran melalui powerpoint. Kegiatan prasyarat dilakukan dengan melakukan fast
feedback berbasis Student Response System berbantuan aplikasi
Plickers.
Kegiatan inti, diawali guru
menyampaikan tayangan tentang objek berbentuk tabung, kerucut dan bola. Kemudian siswa
diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan berkaitan dengan unsur-unsur bangun ruang
sisi lengkung yang penting untuk diketahuinya agar mereka dapat membuat objek tersebut. Dengan memberikan kesempatan siswa
untuk bertanya, diharapkan mereka dapat mengetahui sifat-sifat atau unsur-unsur
dari tabung
seperti bentuk
permukaan bangun ruang, bentuk alas dan
tutup, serta selimut bangun ruang sisi lengsung tersebut. Guru selanjutnya mendata
pertanyaan dan menyusun
urutan – urutan pertanyaan tersebut.
Untuk mengorganisasikan siswa dalam belajar,
guru mengatur letak tempat duduk masing-masing siswa sehingga saling berdekatan dengan kelompok
yang sudah dibagi guru secara heterogen artinya kemampuan tiap kelompok relatif
sama. Selanjutnya, masing-masing siswa menghidupkan komputer, menjalankan
aplikasi Edmodo untuk mengambil/mengunduh lembar kerja peserta didik dan
melihat tayangan video yang telah disiapkan guru.
Selanjutnya semua anggota
masing-masing kelompok melihat video tutorial tentang cara
menggambar tabung dengan geogebra, kemudian masing-masing anggota mencoba
menggambar tabung dengan menggunakan Geogebra dan mengekspor gambar tersebut ke
file lembar kerja unsur-unsur tabung yang menggunakan Microsoft Word.
Langkah selanjutnya file lembar
kerja tentang unsur-unsur bangun ruang yang sudah jadi, seluruh anggota
memperlihatkan hasil pekerjaan masing-masing dan mendiskusikan bersama dan
memilih salah satu hasil pekerjaan anggota kelompok yang sudah dianggap benar
untuk diupload kembali pada aplikasi Edmodo. Pada kegiatan ini guru hanya
sebagai fasilitator, membantu siswa atau kelompok yang kesulitan secara teknis
misalnya kesulitan mendownload file lembar kerja, kesulitan membuka aplikasi Edmodo, maupun
kesulitan membuka Geogebra.
Setelah semua kelompok mengupload
hasil pekerjaannya, maka guru menawarkan atau memberi kesempatan pada salah
satu kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaanya ke depan kelas,
sedangkan kelompok yang lain yang tidak maju untuk memperhatikan presentasi,
serta memberi tanggapan kepada kelompok yang presentasi. Sedang guru dan
observer memantau jalannya dikusi, mengarahkan diskusi jika keluar dari materi.
Ketika kegiatan presentasi berakhir
selanjutnya proses konfirmasi, yaitu siswa meminta pertimbangan guru jika
jawaban-jawaban yang dikemukakan baik kelompok yang presentasi dan yang
bertanya ada keraguan. Selanjutnya guru menguatkan jawaban-jawaban kelompok
yang presentasi sehingga tidak ada keragu-raguan tentang konsep yang
disampaikan siswa. Setelah kelompok yang presentasi selesai, guru
memberikan reward kepada kelompok
tersebut dengan memberikan tepuk tangan.
Kegiatan Penutup pembelajaran
dilakukan pemberian rangkuman tentang unsur-unsur bangun ruang sisi lengkung
yaitu tabung dengan tanya jawab, serta diakhiri dengan menginformasikan materi
selanjutnya yaitu unsur – unsur kerucut dan bola yang harus dipersiapkan oleh
siswa.
Sedangkan kegiatan inti pada
pertemuan ketiga adalah melaksanakan game online (space race) secara berkelompok dengan menggunakan aplikasi
socrative. Setelah game selasai, untuk kegiatan umpan balik, guru
mempersilahkan perwakilan kelompok yang ingin menjelaskan alasan tentang
jawabannya ke depan kelas, sedangkan guru menilai komunikasi matematika siswa
yang maju tersebut.
Gambar 2. Tampilan Game dengan Aplikasi Socrative pergerakan rocket tiap kelompok pada layar LCD dan
tampilan soal di monitor peserta
3.1.2.
Deskripsi Pelaksanaan Siklus 2
Siklus kedua dilaksanakan
empat kali pertemuan dengan setiap pertemuan selama 2 jam pelajaran (2 ´ 40 menit), diikuti oleh 32 siswa Pelaksanaan Pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga
sebagai berikut:
Kegiatan pendahuluan didahului memastikan seluruh siswa berada di laboratorium
komputer, selanjunya guru melakukan salam yang kemudian dijawab oleh siswa,
selanjutnya guru mengecek kesiapan siswa mengikuti pembelajaran diantaranya
buku pelajaran, alat peraga serta memastikan masing-masing siswa sudah duduk
pada masing-masing komputer yang akan dipergunakan siswa serta berdekatan
dengan kelompok diskusinya. Kegiatan prasyarat dilakukan dengan melakukan fast
feedback berbasis Student Response System berbantuan aplikasi
Plickers. Setelah selesai guru mempersilahkan salah satu siswa untuk menjelaskan
jawaban untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematika secara lisan.Guru menayangkan skenario
pembelajaran yang dipaparkan melaui media PowerPoint.


Gambar 3. Kegiatan Prasyarat: Untuk mengetahui
kemampuan komunikasi matematika dengan menggunakan aplikasi Plickers, sehingga
guru langsung dapat mengetahui berapa siswa yang merespon
Kegiatan inti, diawali
guru menyampaikan tayangan tentang objek berbentuk tabung, kerucut,bola dan diberi pancingan
tentang pertanyaan yang muncul pada siswa berkaitan dengan luas permukaan
bangun ruang sisi lengkung tabung yang harus diketahui agar dapat membuatnya,
harapannya siswa mengajukan pertanyaan tentang luas permukaan tabung tersebut
Kemudian guru mendata pertanyaan dan mengusun urutan – urutan pertanyaan
tersebut.
Untuk mengorganisasikan
siswa untuk belajar, serta menumbuhkan keingintahuan, siswa mempersiapkan diri
secara berkelompok yang telah diatur oleh guru secara heterogen dengan satu
kelompok terdiri 4 siswa sehingga terbentuk delapan kelompok.Selanjutnya,
masing-masing siswa menghidupkan komputer, menjalankan aplikasi Edmodo untuk
mengambil/mengunduh lembar kerja peserta didik dan melihat tayangan video yang
telah disiapkan guru.
Selanjutnya semua anggota
masing-masing kelompok melihat video tutorial cara menggambar bagian-bagian
tabung, kemudian masing-masing anggota mencoba menggambar tabung dengan
menggunakan Geogebra, selanjutnya seluruh anggota pada masing-masing kelompok
berkumpul di komputer ketua kelompok untuk mendiskusikan bersama lembar kerja peserta didik dengan mendownload
terlebih dahulu filenya di aplikasi Edmodo yang telah disiapkan guru, termasuk
mengekspor gambar tersebut ke file lembar kerja unsur-unsur tabung yang
menggunakan microsoft word. Setelah selesai salah satu anggota mengupload hasil
pekerjaannya kembali ke aplikasi Edmodo yang telah disediakanPada kegiatan ini
guru hanya sebagai fasilitator, membantu siswa atau kelompok yang kesulitan
secara teknis misalnya kesulitan mendownload file lembar kerja, kesulitan
membuka aplikasi Edmodo, maupun kesulitan membuka Geogebra.
Setelah semua kelompok
mengupload hasil pekerjaannya, maka guru menawarkan atau memberi kesempatan
pada salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaanya ke depan
kelas, sedangkan kelompok yang lain yang tidak maju untuk memperhatikan
presentasi, serta memberi tanggapan kepada kelompok yang presentasi. Sedang
guru dan observer memantau jalannya dikusi, mengarahkan diskusi jika keluar
dari materi.
Ketika kegiatan presentasi
berkahir selanjutnya proses konfirmasi, yaitu siswa meminta pertimbangan guru
jika jawaban-jawaban yang dikemukakan baik kelompok yang presentasi dan yang
bertanya ada keraguan. Selanjutnya guru menguatkan jawaban-jawaban kelompok
yang presentasi sehingga tidak ada keraguan-keraguan tentang konsep yang
disampaikan siswa. Setelah kelompok yang presentasi selesai guru memberikan reward kepada kelompok tersebut dengan
memberikan tepuk tangan.
Kegiatan
Penutup pembelajaran dilakukan pemberian rangkuman tentang rumus menentukan
luas permukaan bangun ruang sisi lengkung yaitu tabung dengan tanya jawab,
serta diakhiri dengan menginformasikan materi selanjutnya yaitu menentukan
rumus luas permukaan kerucut yang harus dipersiapkan oleh siswa.
Sedangkan
pada pertemuan keempat, kegiatan intinya siswa melakukan game secara
berkelompok dengan menggunakan aplikasi socrative. Setelah semua kelompok menjawab
diumumkan kelompok mana yang menang. Untuk kegiatan umpan balik, guru
mempersilahkan perwakilan kelompok yang ingin menjelaskan alasan tentang
jawabannya ke depan kelas, sedangkan guru menilai komunikasi matematika siswa
yang maju tersebut.
3.2.
Pembahasan
Berdasarkan
deskripsi hasil penelitian pada siklus pertama dan kedua tersebut di atas
selanjutnya akan dilakukan analisis hasil penelitian sebagai berikut.
Pada siklus
pertama, siswa kelas IX I SMP 33 Semarang berdasarkan hasil analisis pengamatan
aktifitas siswa dalam pembelajaran dapat diketahui bahwa siswa antusias hal ini
dapat ditunjukkan ketika masuk ke laboratorium komputer siswa langsung berusaha
untuk menempati tempat duduknya sesuai yang diatur guru dan mengikuti skenario
yang dipaparkan guru melalui tayangan PowerPoint menggunakan LCD projector,
namun demikian pada tahap persiapan yang berhubungan dengan pemanfaatan
komputer sebagai media pembelajaran masih cenderung lama, hal ini dikarenakan
baru pertama kali siswa mengikuti pembelajaran dengan full teknologi. Kemampuan
siswa dalam komunikasi matematika secara tertulis yang ditunjukkan melalui
banyaknya siswa yang menunjukkan jawaban pada kartu Plickers maupun game
kelompok dengan menggunakan aplikasi Socrative amat baik karena semua siswa
merenpons pertanyaan yang diberikan guru. Namun kemampuan komunikasi matematika
secara lisan masih level satu yaitu ada respon tetapi tidak memberikan alasan
artinya siswa tidak/belum berani untuk menjelaskan jawaban mereka, hal ini
didukung dengan hasil obervasi tentang keaktifan berpendapatnya pada kategori
cukup. Ketidak beranian siswa untuk menjelaskan jawabannya dikarenakan malu dan
takut jika jawabannya salah. Walaupun demikian selama siklus satu masih
terdapat terdapat dua siswa tingkat kemampuan komunikasi matematika pada level
empat yaitu ada respon disertai disertai
alasan lengkap dan runtut penyajiannya.
Dari hasil
pengamatan, pada siklus pertama pertemuan pertama, ketika peneliti memberi
kesempatan kepada siswa menjelaskan dari pertanyaan prasyarat dengan aplikasi
plickers berikut.
Siswa bernama Aida mengacungkan tangan untuk menjelaskan ke depan dan
menuliskan dengan runtut.
“rumus
Keliling persegi panjang adalah dua kali dalam kurung panjang ditambah lebar
kurung tutup), karena panjang sama dengan x dan lebar sama dengan t, maka
keliling plat tersebut adalah dua kali dalam kurung x ditambah t kurung tutup,
sedangkan luas persegi panjang adalah panjang kali lebar, maka luas plat
tersebut adalah x kali t.
Jika dilihat dari hasil observasi, pada
siklus satu, jalannya diskusi kelompok siswa masih pasif cenderung bekerja
secara individu, dikarenakan masing-masing siswa membuka file lembar kerja
sendiri-sendiri akibatnya mereka juga ingin meneyelesaikannya sendiri-sendiri
dahulu, sehingga tidak memperhatikan waktu yang diberikan. Jika dilihat dari
hasil pekerjaan siswa, belum kreatif dalam memodifikasi cara menggambar bangun
ruang sisi lengkung, siswa masih berpatokan dengan video tutorialnya. Hal-hal
tersebut di atas yang diubah strateginya pada siklus dua diantaranya setelah
masing-masing anggota kelompok melihat video, maka LKPD dibuat bersama-sama
melalui diskusi kelompok dengan menghadapi satu komputer saja.
Pada siklus
kedua ada peningkatan kemampuan komunikasi matematika secara lisan pada level 4
yaitu ada respon dan berani menyampaikan pendapat secara runtut serta mengalami
penurunan siswa yang memiliki kemampuan komunikasi matematika pada level 1. Hal
ini disebabkan siswa sudah merasa senang dengan pembelajaran matematika dengan
menggunakan teknologi, selain itu umpan balik dengan mengggunakan aplikasi
plickers maupun Socrative siswa dapat langsung
mengetahui jawaban dan guru dapat mengetahui seberapa siswa dapat
mengkomunikasikan secara lisan. Peningkatan komunikasi matematika juga didukung
hasil observasi bahwa seluruh siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran,
aktif dalam berdiskusi kelompok pekerjaan yang dihasilkan menunjukkan sesuai
konsep yang diharapkan serta dalam kegiatan presentasi siswa sudah mulai aktif,
khususnya pada saat sesi tanya jawab masing-masing anggota kelompok harus
saling membantu dalam menjawab pertanyaan dari kelompok lain, sehingga saling
mengisi kekurangan. Selain itu kelompok yang tidak maju juga berani
mengemukakan pendapatnya, memberi sanggahan serta memberi pertanyaan kepada
yang presentasi. Demikian juga ketika game kelompok (race game) menggunakan aplikasi Socrative terjadi persaingan antar
kelompok untuk memenangkan perlombaan.
Berikut ini
hasil observasi yang dapat memberikan gambaran tentang salah satu siswa yang
berani mewakili kelompknya untuk menjelaskan jawaban kelompoknya ketika kegiatan
pembahasan race game.
Peneliti menayangkan salah satu satu pertanyaan di bawah ini.

Dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk menjawab. Siswa bernama Tegar mengacungkan tangan
“Saya pak!” kemudian peneliti
mempersilahkan untuk menjelaskan ke depan.
Langkah
pertama, siswa tersebut menggambar visualisasi sketsa semangka yang telah
dibelah menjadi dua sama besar. Kemudian menunjukkan kepada teman-temannya.
Perhatikan gambar belahan semangka ini, ternyata
belahan semangka ini terdiri dari bagian atas yang berbentuk lingkaran dan
selimut setengah bola, sehingga luas permukaan satu bagian yang telah dibelah
ini adalah luas satu lingkaran ditambah luas setengah bola.
Berdasarkan
hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan komunikasi matematika secara lisan pada level 4 yaitu Ada respon disertai
alasan lengkap dan runtut penyajiannya, yang artinya siswa sudah memiliki keberanian dalam
menjelaskan dari permasalahan yang diberikan guru secara runtut bila perlu di
lengkapi dengan gambar. Sedangkan kemampuan komunikasi matematika pada level 1 yaitu ada respon tidak disertai
alasan terjadi penurunan. Ini menunjukkan bahwa ada terjadi peningkatan
kemampuan komunikasi matematika pada materi bangun ruang sisi lengkung pada
siswa kelas IX I semester 1 di SMP Negeri 33 Semarang tahun pelajaran 2017/2018
melalui penerapan Technology–based
Guided-discovery Method. Hasil tes
rata-rata kelas pada siklus pertama dan kedua
mengalami peningkatan dari 68,44 menjadi
74,79 serta prosentase banyaknya siswa yang mendapat nilai minimal 70 sebesar
65,63% menjadi 78,13%. Hasil tersebut menunjukkan terjadi peningkatan hasil
belajar materi bangun ruang sisi lengkung pada siswa kelas IX I semester 1 di SMP Negeri 33 Semarang tahun pelajaran
2017/2018 melalui penerapan Technology–based
Guided-discovery Method;
Berdasar
analisis dan pembahasan tersebut diatas, maka dengan menerapkan penerapan Technology–based
Guided-discovery Method dalam pembelajaran bangun ruang sisi lengkung memperoleh
kelebihan/keuntungan sebagai berikut sebagai berikut:
1.
Dapat meningkatkan meningkatkan kemampuan komunikasi
matematika secara lisan.
2.
Dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri dalam menyelesaikan
masalah matematika.
3.
Dapat saling berbagi pengetahuan dengan teman sekelompoknya
juga pada guru sehingga mendapatkan jawaban yang jelas.
4.
Siswa merasa termotivasi untuk berpikir kritis, bertanggung
jawab. Walaupun sebagian kecil siswa merasa kurang senang jika anggota
kelompknya ada yang tidak dapat bekerja serta masih merasa takut waktu
mempresentasikan hasil karyanya.
5.
Ikut melestarikan lingkungan karena tidak memrlukan kertas
untuk menjawab pertanyaan.
Namun demikian, perlu
diperhatikan dalam menerapkan penerapan Technology–based
Guided-discovery Method dalam pembelajaran bangun ruang sisi lengkung diantaranya:
1.
Perlu memperhatikan alokasi waktu yang telah ditetapkan.
2.
Pengecekan perangkat yang akan digunakan, baik perangkat
lunaknya maupun perangkat kerasnya.
3.
Kemampuan siswa dalam menguasai perangkat lunak pendukung,
misalnya pada penelitian ini siswa harus menggunakan microsoft word dan menggunakan
simbol matematika, maka minimal siswa dapat menguasai Equation, jika tidak maka akan menjadi kendala khususnya ketepatan
waktu penyelesaian tugas.
4.
Guru harus menguasai dahulu teknologi yang akan digunakan
untuk pembelajaran
Penerapan
penerapan Technology–based
Guided-discovery Method tidak dapat digunakan untuk semua materi, sehingga
guru perlu memilih materi yang cocok menggunakan metode ini.
4. Kesimpulan
dan Saran
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan aktivitas 32 siswa dalam pembelajaran menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan komunikasi matematika secara lisan pada level 4 yaitu Ada
respon disertai alasan lengkap dan runtut penyajiannya dari 2 siswa (6,25%)
menjadi 10 siswa (31, 25%), yang artinya siswa sudah memiliki kebenarian
dalam menjelaskan dari permasalahan yang diberikan guru secara runtut bila
perlu di lengkapi dengan gambar. Sedangkan kemampuan komunikasi matematika pada
level 1 yaitu ada respon tidak disertai
alasan terjadi penurunan dari 22 siswa (68,75%) menjadi 15 siswa (46, 88%) . Ini menunjukkan bahwa ada terjadi
peningkatan kemampuan komunikasi matematika pada materi bangun ruang sisi
lengkung pada siswa kelas IX I semester 1 di SMP Negeri 33 Semarang tahun
pelajaran 2017/2018 melalui penerapan Technology–based Guided-discovery Method
Hasil tes rata-rata kelas
pada siklus pertama dan kedua mengalami peningkatan dari 68,44 menjadi 74,79 serta prosentase
banyaknya siswa yang mendapat nilai minimal 70 sebesar 65,63% menjadi 78,13%.
Hasil tersebut menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar materi bangun
ruang sisi lengkung pada siswa kelas IX
I semester 1 di SMP Negeri 33 Semarang
tahun pelajaran 2017/2018 melalui penerapan Technology–based Guided-discovery Method.
4.2. Saran
Saran
yang dapat diberikan sebagai berikut.
1.
Sebagai tindak lanjut dari penelitian tindakan kelas ini
perlu adanya penelitian tindakan kelas lanjutan mengenai penggunaan metode
penemuan terbimbing dengan fast feedback berbantuan Student Response
System (SRS) terhadap strategi pembelajarannya berbantuan web aplication , motivasi siswa maupun
materi-materi lain .
2.
Berdasarkan hasil penelitian ini, guru kelas IX sebaiknya
pada saat pembelajaran matematika khususnya materi geometri dan pengukurannya
dapat menerapkan Technology–Based Guided-Discovery Method, karena dengan mengkondisikan siswa dengan situasi
yang menyenangkan akan membuat materi pelajaran matematika mudah diterima
dengan siswa.
3.
Pihak sekolah selalu mendorong guru-guru untuk melakukan
penelitian tindakan kelas agar mengetahui kesulitan siswa dan memberikan solusi
terhadap kesulitan tersebut sehingga hasil belajar siswa dapat optimal.
Daftar Pustaka
Asep Jihad. 2008. Pengembangan Kurikulum Matematika (Tinjauan
Teoritis dan Historis). Yogyakarta: Multi Pressindo.
Asngari, Dian Romadhoni. 2015. Penggunaan Geogebra dalam Pembelajaran
Geometri. Seminar Matematika dan Pendidikan Matematika UNY.PM-43
Chua, B. L., & Wu, Y. 2005.
Designing Technology-based Mathematics Lessons: A Pedagogical Framework. Journal of Computers in Mathematics and
Science Teaching, 24(4), 387-402.
d'Inverno, R., Davis, H.,
& White, S. 2003. Using a personal response system for promoting student
interaction. Teaching Mathematics and its
applications, 22(4), 163-169.
Dirjen Dikdasmen. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching
and Learning). Jakarta: Depdiknas.
Edo, S. I., Ilma, R.,
& Hartono, Y. 2013. Investigating Secondary School Students’ Difficulties
in Modelling Problems PISA-Model Level 5 and 6. IndoMS Journal on Mathematics Education (IndoMS-JME), 4(1), 41-58.
Fauzan, A. (2000).”Papan Hitung” Suatu Alat Bantu
Pembelajaran Matematika untuk Menanamkan Konsep Berhitung Operasi Perkalian dan
Pembagian pada Siswa Kelas III Cawu 1 Sekolah Dasar Tahun Pelajaran 2000/2001.
Semarang: UNNES
Griffin, B. J., &
Kopanski, R. 1988. Student response system: Google Patents.
Hall, R. H., Collier, H.
L., Thomas, M. L., & Hilgers, M. G. (2005). A student response system for
increasing engagement, motivation, and learning in high enrollment lectures. AMCIS 2005 Proceedings, 255.
Jurotun. 2015. Meningkatkan Komunikasi Peserta Didik
melalui "DiscoLemper" Berbantuan Software Geogebra. Jurnal
Matematika Kreatif-Inovatif.Vol.6 No.1:1-6. DOI:http
Leach, J., Ahmed, A.,
Makalima, S., & Power, T.2006. DEEP
IMPACT: an investigation of the use of information and communication
technologies for teacher education in the global south: Researching the issues.
London, UK: Department for International Development (DFID).
Leikin, R., &
Zaslavsky, O. 1997. Facilitating Student Interactions in Mathematics in a
Cooperative Learning Setting. Journal for
Research in Mathematics Education, 28(3), 331-354. doi:10.2307/749784
Lew, H.-C., & Jeong,
S.-Y. 2014. Key factors for Successful Integration of Technology into the
Classroom: Textbooks and Teachers. Electronic
Journal of Mathematics & Technology, 8(5), 336-354.
Lin, H. 2000. Fluency with
information technology. Government
Information Quarterly, 17(1), 69-76. doi:http://dx.doi.org/10.1016/S0740-624X(99)00024-6
MoEC. 2013. The regulation of minister of education and
cuture of the Republic of Indonesia number 68 year 2013 concerning basic
framework and structure of junior high school's curriculum. Jakarta,
Indonesia: The Ministry of Education and Culture.
Mustafid. 1992. Konsep-Konsep
Matematika Dasar Yang Esensial di Perguruan Tinggi. Makalah. FMIPA IKIP Semarang.
Niss, M., Blum, W., &
Galbraith, P. 2007. Introduction. In W. Blum, P. L. Galbraith, H.-W. Henn,
& M. Niss (Eds.), Modelling and
Applications in Mathematics Education (pp. 3-32): Springer US.
OECD. 2015. Students, Computers and Learning: Making the
connection. Paris: OECD Publishing.
Sumiati.2009. Metode Pembelajaran.
Bandung: Wacana Prima, CV.
The World Bank. 2010. Inside Indonesia's mathematics classrooms :
a TIMSS video study of teaching practices and student achievement (54936).
Retrieved from
Thomas, K. M., O'Bannon,
B. W., & Bolton, N. (2013). Cell Phones in the Classroom: Teachers'
Perspectives of Inclusion, Benefits, and Barriers. Computers in the Schools, 30(4), 295-308.
Van de Walle, J. A., Karp, K. S., & Bay-Williams, J.
M. (2007). Matematika Sekolah Dasar dan
Menengah: Pengembangan Pengajaran.dialihbahasakan oleh Suyono. Jakarta: PT.
Erlangga
Yusri, I. K., & Goodwin, R.
2013. Mobile learning for ICT training: Enhancing ICT skill of teachers in
Indonesia. International Journal of
e-Education, e-Business, e-Management and e-Learning, 3(4).
doi:10.7763/IJEEEE.2013.V3.243
Zaenal
Abidin. 2007. Upaya Meningkatkan Motivasi
Dan Pemahaman Siswa Pada Materi Geometri Dan Pengukuran Melalui Kegiatan
“Remase” Di SMP 33 Semarang. Semarang:
UNNES.




Komentar
Posting Komentar